Kamis, 25 Agustus 2011

Visi dan Tujuan

Dalam kekalutan hati Ira berpikir akan mengugat cerai suaminya. Dia sebel banget dengan suaminya, Maec yang sering meminta pertimbangan bibinya. Terakhir dia minya pertimbangan bibinya waktu akan mengganti susu anaknya yang menginjak usia satu tahun. Ira kesel banget, “Sedikit-dikit minta pendapat bolek, kenapa sih mas nggak langsung berangkat aja?”
Sampai sedemikian parahkan perbedaan ini sehingga mempertimbangkan cerai? Jujur saya juga pernah berpikir ini, tetapi akal saya selalu berpikir sehat. Kenapa saya melakukan ini dan itu. Apakah keputusan ini tepai? Apakah ini hanya karena ego saya yang terlalu berlebihan? Apakah saya memang perlu berubah?. Akhirnya saya mendapatkan nasehat bijak dari perenungan mendalam. Saya mendapatkan banyak nasehat dari buku motivasi dan spiritual agama.
Apa tujuan keluarga anda? Ini yang selalu saya tekankan. Kemudian pikiran saya membayangkan visi ke depan yang ingin saya capai bersama dengan istri dan anak-anak. Visi yang menjulang tinggi dan akan kami wujukkan dalam jangka panjang. Apa visi keluarga? Saya kristalkan benar dalam benak saya, bahwa visi keluarga saya adalah menggapai kebahagiaan bersama di dunia dan akhirat. Kami ingin bersama di dunia dan akhirat nanti.
Dengan visi yang mengkristal ini, kami disatukan dalam goal yang sama. Kami mencari rejeki dengan cara yang halal dan tidak saling menonjolkan siapa yang paling hebat. Tidak ada yang paling hebat di dalam keluarga kami. Kami semua berjasa dan sama besarnya. Oleh sebab itu, kisi-kisi kecil yang menjadi sandungan mudah lenyap dihapis oleh tujuan kami yang maha besar. Dengan demikian, suasana-suasana panas segera mendingin dan tidak akan berpikir apapun selain tujuan keluarga kami yang dijunjung tinggi.

Tidak ada komentar: