Kamis, 25 Agustus 2011

Program Anggaran

Masalah uang memang merupakan masalah sensitif sehingga sering kali orang menghindar membicarakan soal ini. Padahal, bagi Anda yang telah memiliki pasangan dan sudah berumah tangga, masalah keuangan harus dibicarakan secara terbuka karena menyangkut masa depan suami-istri dan anak-anak. Coba bicarakan dan aturlah masalah keuangan dengan lebih hati-hati dan terbuka.
Berikut ini beberapa langkah untuk dijadikan panduan Anda.

Langkah 1 : Bicara & Atur Target

Ini bagian yang sulit, tetapi pada akhirnya akan terasa manfaatnya. Anda dan pasangan duduk berdua dan membahas permasalahannya. Pastikan Anda berdua dalam keadaan tenang. icarakan secara terbuka soal keinginan, kebutuhan, uneg-uneg dan target Anda. Ingat, Anda berdua adalah satu tim yang perlu sepakat atas rencana yang disusun. Bersikaplah serius dan jangan berharap pasangan bisa membaca pikiran Anda.

Langkah 2 : Mengerti Anggaran Keluarga

Anda berdua perlu sepakat, apa ayang dimaksud kebutuhan primer dan sekunder. Bagi anggaran keluarga ke dalam dua kategori, yaitu pengeluaran variabel dan pengeluaran pasti. Periksa pengeluaran bulan-bulan sebelumnya untuk melihat pengeluaran berjumlah besar dan tak termasuk kebutuhan primer. Jangan lupa, memasukkan pengeluaran kecil seperti membeli penganan ringan, DVD, atau nonton bioskop.

Langkah 3 : Gunakan Alat Pelacak Uang

Agar pengeluaran uang selalu terlacak, gunakan software keuangan. Ini merupakan alarm untuk melihat seberapa besar uang yang telah dikeluarkan. Usahakan menggunakan uang tunai sesedikit mungkin agar mudah ditelusuri. Catat pengeluaran sekecil apapun yang Anda lakukan. Jika rajin mengategorikan setiap pengeluaran sampai detail, Anda akan melihat jelas bagaimana uang sudah dibelanjakan.

Langkaah 4 : Terorganisasi & Otomatis

Apakah Anda sering bepergian dan merasa sulit menyimpan bon-bon belanjaan? Sulitkah untuk duduk dan mencatat setiap pengeluaran yang dilakukan? Zaman modern ini Anda tak perlu melakukannya lagi. Anda bisa menggunakan layanan bank online atau software khusus pengelolaan keuangan. Selain mengurangi tumpukan bon, catatan Anda tersimpan rapi di komputer dan bisa digunakan setiap saat, baik untuk memasukkan data atau jadi bahan tinjauan.

Langkah 5 : Menciptakan Sistem Keuangan

Ketika duduk bersama pasangan dan bicara soaal pengelolaan keuangan keluarga, sepakati aturan : bagaimana dan kapan uang dibelanjakan, dan apa yang dianggap pengeluaran kecil-kecil. Pertimbangkan untuk punya beberapa rekening bank agar tetap terpusat pada pengeluaran. Satu rekening untuk pengeluaran tetap dan satu lagi untuk pengeluaran tidak tetap atau jumlah kecil. Dan konsisten pada anggaran yang telah disepakati!

Langkah 6 : Kelola Kartu Kredit

Bayarlah kartu kredit sesuai tagihan, atau setidaknya lebih besar dari pembayaran minimum dan sebelum jatuh tempo agar terhindar dari bunga besar. Padaa dasarnya Anda hanya memerlukan 1-2 kartu kredit, dan gunakan untuk keadaan darurat.

Langkaah 7 : Kencangkan Ikat Pinggang

Apakah Anda mendapat keuntungan dari membayar asuransi mobil, pendidikan anak, atau jiwa? Apakan Anda mencicil teve, sementara hampir tak ada yang menontonnya? Berapa besar Anda membayar tagihan majalah yang hampir tak pernah dibaca?
Apakah ada pengeluaran bisnis yang menggunakan uang pribadi dan belum diklaim karena lupa diurus? Intinya, sebelum situasi keuangan makin parah, tak ada kata terlambat untuk menatanya kembali. Buat pengeluaran primer dan pertimbangkan masak-masak sebelum membuat pengeluaran sekunder.

Langkah 8 : Mulai Menabung!

Tak apa menabung sedikit demi sedikit setiap bulannya. Target Anda harus setara dengan enam bulan gaji dan untuk pengeluaran darurat. Pertimbangkan menyimpan uang di bank berbeda agar Anda bisa menyimpan uang secara terpisah untuk keadaan darurat. liburan, dan untuk anggota keluarga baru.

Langkah 9 :Asuransi

Belilah asuransi untuk melindungi mereka yang tergantung pada Anda. Bila punya anak, Anda perlu mengasuransikannya. Jika Anda ibu rumah tangga dan sesuatu terjadi pada diri Anda, akan ada biaya untuk menggantikannya.

Langkah 10 : Buat Catatan

Sangat bijaksana untuk selalu mencatat semua keinginan. Anda perlu memastikan jawaban, "Siapa yang akan mengurus anak dan kepemilikan saya setelah saya meninggal?" Pertimbangkan dan tentukan siapa yang akan mengurus kebutuhan anak-anak, dan yang mengawasi dana serta anggaran.

Langkah 11 : Persiapkan Masa Depan

Bicarakan dengan perencana keuangan soal rencana investasi. Ada perencana keuangan yang menghitung biaya flat, ada pula yang gratis sehingga Anda ingin menginvestasikan di produknya dan mereka mendapat komisi. Pastikan Anda mendapat perencana keuangan yang layak dan punya saran yang sesuai minat Anda, dan bukan memberikan komisi bagus untuknya. Jangan takut bertanya berbagai hal yang pantas Anda ketahui secara terbuka.

Langkah 12 : Menabung Untuk Anak-Anak

Seperti kondisi darurat di pesawat, di mana Anda harus lebih dahulu memasang oxygen pada diri sendiri, baru kemudian pada anak. Demikian pula hanlnya dengan menabung. Sisihkan uang untuk Anda terlebih dahulu, baru kemudian untuk anak-anak.

Profil

Nama ku Siti Nur Kholifa


Gak da yang istimewa dari semua biasa saja


Pesan untuk mu :
Bahaya kepandaian adalah berbuat sekehendak hati. Bahaya keberanian adalah melampaui batas. Bahaya toleransi adalah menyebut-nyebut kebaikannya. Bahaya kecantikan adalah sombong. Bahaya ucapan adalah dusta. Bahaya ilmu adalah lupa. Bahaya pemurah adalah berlebih-lebihan.

Kepastian Hidup

Arti Sebuah Keluarga


Sebuah bangunan terdiri dari bata-bata, jika satu batubata hilang, maka
bangunan itu tak hanya keindahannya yang hilang tapi juga kekuatannya.
Masyarakat adalah cerminan kondisi keluarga. Jika keluarga sehat berarti masyarakatnya juga sehat. Jika keluarga bahagia, masyarakat pun bahagia. Setidaknya, ada lima faktor untuk membentuk keluarga sakinah di antaranya sebagai berikut.
1. Dalam keluarga ada mawaddah dan rahmah.
Mawaddah adalah jenis cinta membara, yang mengebu-gebu. Sedangkan rahmah adalah jenis cinta yang lembut, siap berkorban dan melindungi yang dicintai. Mawaddah saja kurang menjamin kelangsungan rumah tangga. Sebaliknya, rahmah, tak cukup memeberikan garansi.
2. Hubungan antara suami istri harus atas berdasarkan saling membutuhkan.
Seperti pakaian dan yang memakainya “hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna”. (QS al Baqarah:187) Kalau kita kaji lebih dalam, fungsi pakaian setidaknya ada tiga; menutup aurat, melindungi diri dari panas dan dingin, serta sebagai perhiasan. Suami terhadap istri, juga harus memiliki fungsi yang sama.
Jika istri mempunyai sesuatu kekurangan, suami tidak menceritakan pada orang lain. Begitu juga sebaliknya. Jika istri sakit, suami segera mencari obat atau membawa ke dokter. Begitu juga sebaliknya. Istri harus selalu tampil membanggakan suami, suami juga harus tampil membanggakan istri . Jangan terbalik, di luaran tampil menarik perhatian orang banyak. Tapi ketika di rumah, tampil tak sedap dipandang mata.
3. Suami istri dalam bergaul memperhatikan hal-hal yang secara sosial
dianggap patut (ma’ruf), tidak asal benar dan hak.
“Wa’a syiruhunna bil ma’ruf”. (QS. An Nisa : 19). Besarnya mahar, nafkah, cara bergaul dan sebagainya harus memperhatikan nilai-nilai ma’ruf . Hal ini terutama harus diperhatikan oleh suami istri yang berasal dari kultur yang menyolok perbedaannya.
4. Menurut hadits Nabi, pilar keluarga sakinah itu ada empat.
a. Memiliki kecendrungan kepada agama.
b. Yang muda menghormati yang tua dan yang tua menyayangi yang
muda.
c. Sederhana dalam belanja.
d. Santun dalam bergaul dan selalu melakukan introspeksi.
5. Rasulullah juga bersabda tentang empat faktor yang menjadi sumber
kebahagiaan keluarga.
a. Suami dan istri yang setia.
b. Shalih dan shalihah.
c. Anak-anak yang berbakti pada orangtuanya.
d. Lingkungan sosial yang sehat dan rezeki yang dekat.
Hari demi hari tak boleh berlalu begitu saja. Anak sebagai buah cinta kita, tumbuh dan berkembang. Langkah kita hari ini menentukan masa depannya. Semoga mereka bisa menjadi pewaris yang kita dambakan. Selama kita setia pada lima hal di atas, insya Allah pertolongan Allah akan selalu menaungi kelurga kita. Amin.

Visi dan Tujuan

Dalam kekalutan hati Ira berpikir akan mengugat cerai suaminya. Dia sebel banget dengan suaminya, Maec yang sering meminta pertimbangan bibinya. Terakhir dia minya pertimbangan bibinya waktu akan mengganti susu anaknya yang menginjak usia satu tahun. Ira kesel banget, “Sedikit-dikit minta pendapat bolek, kenapa sih mas nggak langsung berangkat aja?”
Sampai sedemikian parahkan perbedaan ini sehingga mempertimbangkan cerai? Jujur saya juga pernah berpikir ini, tetapi akal saya selalu berpikir sehat. Kenapa saya melakukan ini dan itu. Apakah keputusan ini tepai? Apakah ini hanya karena ego saya yang terlalu berlebihan? Apakah saya memang perlu berubah?. Akhirnya saya mendapatkan nasehat bijak dari perenungan mendalam. Saya mendapatkan banyak nasehat dari buku motivasi dan spiritual agama.
Apa tujuan keluarga anda? Ini yang selalu saya tekankan. Kemudian pikiran saya membayangkan visi ke depan yang ingin saya capai bersama dengan istri dan anak-anak. Visi yang menjulang tinggi dan akan kami wujukkan dalam jangka panjang. Apa visi keluarga? Saya kristalkan benar dalam benak saya, bahwa visi keluarga saya adalah menggapai kebahagiaan bersama di dunia dan akhirat. Kami ingin bersama di dunia dan akhirat nanti.
Dengan visi yang mengkristal ini, kami disatukan dalam goal yang sama. Kami mencari rejeki dengan cara yang halal dan tidak saling menonjolkan siapa yang paling hebat. Tidak ada yang paling hebat di dalam keluarga kami. Kami semua berjasa dan sama besarnya. Oleh sebab itu, kisi-kisi kecil yang menjadi sandungan mudah lenyap dihapis oleh tujuan kami yang maha besar. Dengan demikian, suasana-suasana panas segera mendingin dan tidak akan berpikir apapun selain tujuan keluarga kami yang dijunjung tinggi.